Februari tuh vibes-nya beda banget. Baru juga selesai euforia pergantian tahun, eh hidup langsung ngegas. Kalender baru jalan beberapa minggu, tapi kepala udah penuh sama target, rapat, laporan, dan urusan sekolah anak. Seolah-olah Januari dikasih buat pemanasan, sementara Februari langsung ngasih “real fight” kehidupan.
Di kantor, jam kerja udah nggak kerasa kayak jam kerja. Orang datang pagi, pulang malam, mata masih nempel ke layar laptop. Grup kerja bunyi terus, bahkan di akhir pekan, bahkan saat lagi makan malam bareng keluarga. Semua orang capek, tapi pura-pura baik-baik aja.
Di rumah, drama sekolah anak nggak kalah heboh. Mulai ujian mendekat, tugas numpuk, les tambah jadwal. Orang tua udah kayak guru backup, psikolog, dan manajer akademik dalam satu badan. Kayak badan di rumah, tapi otak tetap kerja.
Dan di tengah ributnya rutinitas, ada momen-momen hening yang nggak bisa dihindari. Misal, lagi nyetir pas macet, tiba-tiba kepikiran hidup. Lagi mandi, tiba-tiba overthinking. Lagi meeting, tapi pikiran jauh ke tempat lain. Februari tuh kayak ngetik tombol “reset introspeksi” tanpa permission.
Lalu muncul satu pertanyaan yang diam-diam bikin hati sesak:
Apakah aku benar-benar bahagia, atau cuma sibuk?
Liburan jadi opsi yang sering muncul di kepala. Staycation? Bisa. Healing ke pantai? Menarik. Ke luar negeri? Keren. Tapi makin dipikirin, makin sadar kalau yang lagi dibutuhin tuh bukan sekadar kabur dari rutinitas, tapi menenangkan hati yang lagi penuh.
Dan anehnya, pelarian terindah justru bukan mall, bukan pantai, bukan hotel mewah… tapi Tanah Suci.
Bukan karena ikut tren. Bukan karena pengin pamer. Bukan karena teman-teman pada ke sana. Tapi karena ada sesuatu yang bikin hati getar tiap lihat postingan orang thawaf, tiap dengar talbiyah, tiap lihat Ka’bah dari layar HP.
Ada rindu yang nggak bisa dijelasin.
Ada orang yang pura-pura nggak ngerasa apa-apa, tapi deep down kepengin banget sujud di depan Ka’bah sambil bilang: “Ya Allah سبحانه وتعالى… aku capek. Peluk aku.”
Ada yang nahan keinginan itu bertahun-tahun karena alasan kerja, biaya, atau merasa belum pantas. Tapi Februari, dengan semua drama dan tekanan hidupnya, bikin banyak orang akhirnya mikir ulang tentang prioritas.
Sebagian orang mikir:
“Mungkin udah waktunya aku menepi, bukan karena aku lari… tapi karena aku butuh pulang ke Tuhan.”
Ada yang akhirnya mulai browsing paket ibadah, cari waktu yang paling pas, paling nyaman, paling tenang, dan tidak terlalu padat jamaah. Dari hasil tanya-tanya, dari baca pengalaman orang, banyak banget yang bilang kalau Februari itu golden time untuk perjalanan ke Tanah Suci cuaca adem, suasana lebih lengang, ibadah jadi lebih fokus tanpa desak-desakan.
Pada akhirnya ada satu paragraf yang bikin seseorang berhenti mikir dan mulai bergerak:
Kalau hati sudah rindu, jangan ditunda. Karena panggilan itu nggak datang dua kali.
Dan di situ seseorang mulai melangkah. Ada yang daftar pelan-pelan sambil nabung. Ada yang langsung bayar DP sambil deg-degan. Ada yang izin ke kantor dengan suara gemetar. Ada yang ceritakan ke keluarga dengan mata berbinar.
Mereka bukan orang yang hidupnya sempurna. Mereka bukan yang paling kaya, bukan paling saleh. Mereka manusia biasa yang cuma ingin dekat dengan Tuhannya.
Dan guess what?
Saat kaki pertama kali menginjak Masjidil Haram, semua sesal, semua lelah, semua masalah yang selama ini ditahan… pecah.
Tangis turun tanpa bisa ditahan.
Tangan bergetar saat mengangkat doa.
Hati yang selama ini penuh, tiba-tiba kosong tapi dengan cara yang indah.
Karena di situ seseorang sadar
bahagia nggak harus mahal,
yang penting adalah kembali kepada Allah سبحانه وتعالى.
Kalau kamu lagi ngerasa Februari ini berat banget, jangan buru-buru sedih. Bisa jadi Allah سبحانه وتعالى lagi bikin kamu ngerasain lelah supaya kamu inget untuk pulang ke-Nya.
Kalau kamu lagi kebayang perjalanan ibadah di waktu yang adem, tenang, damai, dan nyaman… banyak orang pilih berangkat di umroh februari 2026 karena itu waktu ideal buat ibadah fokus tanpa gangguan.
Dan yang paling bikin merinding?
Banyak orang mengaku mereka nggak pernah menyesal mengeluarkan uang untuk perjalanan ini… tapi mereka sangat menyesal karena tidak berangkat lebih cepat.
Februari bukan bulan berat
dia cuma pengingat bahwa hidup harus punya arah.
Dan arah terbaik selalu menuju Allah سبحانه وتعالى.








